Rabu, 25 Oktober 2017

Gerakan Basmallah


Kesimpulan tentang ayat Basmallah adalah memulai segala sesuatu (amal positip) dengan membaca basmallah atau hanya bismillah saja.  Tugas dan kewajiban kita saat ini adalah melaksanakan ini dan menyampaikan kepada orang lain untuk dapat mengamalkan basmallah.
Kewajiban ini bisa dilakukan sendiri atau bersama-sama orang lain.  Jika ini dilakukan secara massif, maka amaliah ini dapat menjadi sebuah gerakan, Gerakan Basmallah.
Marilah kita lihat apa saja yang bisa dilakukan dengan gerakan basmallah ini. Gerakan basmallah tentu harus dilakukan bersama-sama, tidak sendiri-sendiri. Tetapi paling tidak, harus ada internalisasi basmallah sebagai suatu gerakan sebelum yang bersangkutan melakukan gerakan.
Secara harfiah, gerakan basmallah bisa dilakukan dengan mempraktekkan bacaan basmallah pada setiap akan melakukan suatu amal positip atau menganjurkan sesama Muslim untuk melakukan hal yang sama ketika mengerjakan amal positip.
Pemasyarakatan gerakan basmallah ini bisa dilakukan melalui stiker, pamlet dan bahkan melalui lagu. Bisa juga dengan cara-cara lain yang lebih kreatif melalui media sosial dan lain sebagainya.


Secara maknawi, gerakan basmallah bisa dilakukan dengan berlomba-lomba melakukan amal sholih. Ketika mempunyai niat untuk beramal positip segera dilakukan dan jangan ditunda-tunda.

Sama seperti gerakan secara harfiah,  pemasyarakatan gerakan basmallah ini bisa dilakukan melalui stiker, pamlet dan bahkan melalui lagu. Bisa juga dengan cara-cara lain yang lebih kreatif melalui media sosial dan lain sebagainya. Waallahu a’lam bish showwab.

Sabtu, 02 September 2017

Tafsir Amali Basmallah 3




Dalam Tafsir Basmallah 1 disimpulkan:  pengamalan ayat ini adalah selalu diucapkan sebelum mengawali suatu amalan atau tindakan baik atau dalam bahasa lain disebut amal positip.

Kesimpulan ini dikuatkan oleh beberapa hadits berikut:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كل أمر ذي بال لا يبدأ فيه بـ ” بسم الله ” فهو أبتر ” ، أي: ناقص البركة.
“Setiap perkara (kehidupan)  yang tidak dimulai dengan BISMILLAAHIR-RAHMAANIR-RAHIIM, maka dia akan terputus. Artinya adalah kurang barakahnya” (HR Ibnu Hibban). Umumnya ulama mendhoifkan hadits ini, tetapi  syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menyatakan lebih tepat adalah derajatnya hasan lighairihi.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang membaca:
بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الأَرْضِ وَلا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ
“Dengan menyebut nama Allah yang tidak akan bisa memudharatkan bersama nama-Nya segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” pada setiap hari di waktu shubuh dan sore sebanyak tiga kali maka tidak akan memudharatkan baginya sesuatu apa pun.” (HR At Tarmidzi no 3310 dishahihkan oleh oleh Syeikh Albani)

Bahkan beberapa keadaan atau beberapa ibadah dikaitkan dengan bacaan basmalah:
-ketika makan, jika tidak membaca maka setan ikut makan bersama kita

 Jika menyantap makanan atau menikmati minuman tanpa disertai membaca bismillah, berarti seseorang telah menyediakan rizki bagi Iblis (setan). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan:
قَاَلَ إِبْلِيْسُ : كُلُّ خَلْقَكَ بَيَّنْتَ رِزْقَهُ, فَفِيْمَ رِزْقِيْ؟ قَالَ : فِيْما لَمْ يُذْكَرْ اسْمِيْ عَلَيْهِ

Iblis berkata kepada Allah: “Setiap makhluk-Mu telah Engkau terangkan rizkinya. Mana rizkiku?” Kemudian Dia menjawab: “Pada makanan yang tidak disebut nama-Ku padanya”. [Lihat ash-Shahîhah, 708]
Dari Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: “Telah bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam,
إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ
“Bila salah seorang diantara kalian makan maka hendaknya ia mengucapkan bismillah, bila ia lupa diawalnya, maka hendaknya ia membaca bismillah fi awwalihi wa akhirihi.”(HR At Tarmidzi no 1781 dishohihkan oleh Syekh Albani)

-ketika berhubungan badan, jika tidak dibaca, maka setan ikut bersama kita
Dari shahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Berkata Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam, “Bila salah seorang diantara kalian menggauli istrinya, hendaknya ia berdo’a:
بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا
“Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah setan dari kami dan jauhkanlah setan dari apa yang engkau rizkikan kepada kami.”
Bila Allah subhanahu wata’ala memberikan karunia anak kepadanya maka setan tidak akan mampu memudharatkannya.”(HR At Tarmidzi No 1012)

-ketika meyembelih, 
Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
فَلْيَذْبَحْ عَلَى اسْمِ اللَّهِ
“Hendaknya menyembelih dengan (menyebut) nama Allah (basmalah).”(HR Al Bukhori no 5500)

-ketika tidur
Dari shahabat Hudzaifah radhiallahu ‘anhu berkata, “Kebiasaan (sunnah) Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam ketika hendak tidur, beliau membaca:
بِاسْمِكَ اللَّهُمَّ أَمُوتُ وَأَحْيَا
“Dengan menyebut nama-Mu Ya Allah, aku mati dan aku hidup.”(HR Mutafaqun 'alaih)

-ketika keluar rumah
Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Sesungguhnya Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bila seseorang keluar dari rumahnya, lalu ia membaca:
بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ
“Dengan nama Allah, aku bertawakkal hanya kepada Allah, tiada daya dan upaya kecuali dengan izin Allah.” (HR Abu Dawud no 4431)
-Ketika masuk WC/Toilet
Dari shahabat Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
سَتْرُ مَا بَيْنَ أَعْيُنِ الْجِنِّ وَعَوْرَاتِ بَنِي آدَمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُهُمْ الْخَلاَءَ أَنْ يَقُولَ بِسْمِ اللَّهِ
“Penutup antara pandangan-pandangan jin dengan aurat bani Adam ketika seseorang masuk wc adalah membaca basmalah.” (HR At Tarmidzi no 551 dishaihkan oleh Syekh Albani)

Selain itu, ketika Rasulullah saw menulis surat juga dimulai dengan basmallah. Dan yang lebih kuat lagi Allah meletakkan Basmallah juga berada di paling awal dalam Al Qur:an. 

Karenanya sekali lagi, kesimpulannya adalah:  pengamalan ayat ini adalah selalu diucapkan sebelum mengawali suatu amalan atau tindakan baik atau dalam bahasa lain disebut amal positip. Wa Allahu a'lam bish-showab.

Selasa, 15 Agustus 2017

Tafsir Amali Basmallah 2



#Basmallah 2
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ ﴿١﴾
Dalam Tafsir Amali Basmallah 1 disebutkan: "Diletakkannya kata bi di depan yang mampu mengubah kata ismun menjadi kata ismi ternyata mengandung maksud bahwa kata bismillah akan mampu mengubah dimensi dunia bernilai menjadi dimensi akhirat.
Karenanya, pengamalan ayat ini adalah selalu diucapkan sebelum mengawali suatu amalan atau tindakan baik atau dalam bahasa lain disebut amal positip"
Pengucapan basmallah sebelum melakukan amal positip, bisa juga dipandang sebagai memberi arah bagi amal positip itu kepada siapa ditujukan. Ketika mengucap basmallah maka amal positip itu ditujukan kepada Allah (lillah), tetapi ketika asma Allah tidak disebut maka amal positip itu bukanlah untuk Allah sehingga tak mempunyai dimensi akhirat.
Pemberian arah amal ini jika kita rujuk dalam istilah agama disebut niyat. Amal positip itu tergantung pada niyatnya, Jika niatnya lillah maka Allahlah yang akan memperhatikan dan membalasnya. Tetapi jika niyatnya hanya untuk kedunian maka amal itu hanya urusan dunia semata.
Ini sejalan dengan hadits Rasulullah saw tentang niyat yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dari Khalifah Umar bin Khathab: 
Karenanya, pengucapan basmallah pada saat sebelum melakukan amal positip ini akan memberi arah niyat kita. Maka ketika kita baca basmallah, jelas-jelas niyat kita lillah. untuk Allah. Inilah yang menjadikan amal kita di dunia, tidak hanya berdimensi dunia tetapi juga akhirat Wallahu a'lam

Selasa, 30 Juni 2015

Tafsir Amali Basmallah 1

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ ﴿١﴾
Arti ayat di atas adalah "Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
ayat pertama surat al fatihah ini terdiri 5 kata yaitu: kata bi (charfu
jar), ismun (nama) , Allah, Ar-Rohman dan Ar Rohim.
Ayat pertama ini merupakan satu kalimat, dengan inti kata pada Allah Allah disini mempunyai sifat Arrahman (Maha Pemurah/Pengasih) dan Arrahim (Maha
Penyayang.
Diletakkannya kata bi di depan yang mampu mengubah kata ismun menjadi kata ismi ternyata mengandung maksud bahwa kata bismillah akan mampu mengubah dimensi dunia bernilai menjadi dimensi akhirat.
Karenanya, pengamalan ayat ini adalah selalu diucapkan sebelum mengawali suatu amalan atau tindakan baik atau dalam bahasa lain disebut amal positip.

Jumat, 06 Maret 2015

Surat Al Fatihah dan Terjemah


سورة الفاتحة
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ ﴿١﴾ الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ﴿٢﴾ الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ ﴿٣﴾ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ﴿٤﴾ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾ اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ ﴿٦﴾
001. Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.
002. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, 
003. Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,
004. Yang menguasai hari pembalasan.
005. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan
006. Tunjukilah kami jalan yang lurus,
007. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan ni`mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.
3 orang dijangkau

Tafsir Amali Kitabi


Kenapa Tafsir Amali?
Pada dasarnya, Al Qur’an itu diwahyukan oleh Allah untuk diamalkan. Bukan hanya dibaca dan kemudian dimengerti saja, tetapi untuk diamalkan. Membaca, mengerti dan memahami Al Qur’an hanyalah proses saja untuk bisa mengamalkan Al Qur’an.
Orang kadang hanya berhenti membaca saja tanpa mengerti, memahami Al Qur’an, apalagi mengamalkannya.  Mereka mengangap membaca Al Qur’an itu adalah mengamalkan Al Qur’an. Maka mereka mempunyai tradisi membaca surat Yasin tiap malam Jum’at. Menurut mereka itulah amalan mereka.
Namun ada juga yang lanjut dengan mengerti dan memahami ayat-ayat Al Qur’an. Mereka berdiskusi dengan asyiknya tentang ayat-ayat Al Qur’an itu. Sering sampai berbusa-busa dalam mendebatkan suatu ayat.  Jika perlu dengan referensi berbagai kitab Tafsir ia melakukan perdebatan itu, tetapi mereka berhenti dengan diskusi saja dan dicukupkan dengan ilmunya, baik itu ditulis atau diceramahkan kepada yang lain. Menulis dan menceramahkan itulah yang mereka anggap sebagai pengamalan Al Qur’an.
Yang jarang adalah mendiskusikan bagaimana mengamalkan Al Qur’an dari apa yang mereka mengerti dan pahami itu. Dalam sejarah pergerakan, ini pernah dilakukan oleh KHA Dahlan. Bagaimana dengan membaca, mengerti dan memahami surat Al Ma’un kemudian mereka mengamalkannya dalam kehidupan secara praxis. Inilah yang penulis sebut dengan Tafsir Amali, Tafsir Al Qur’an yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
 Kenapa Kitabi?
Kitabi hanyalah sebuah pendekatan atau metode dalam memahami Al Qur’an. Al Qur’an didekati sebagai sebuah Kitab atau Buku. Artinya, membacanya dari depan (dari surat Al Fatihah sampai ke surat An Nas). Meski ada pula yang membaca buku sesuai dengan kebutuhannya (setelah membaca daftar isi).
Pengalaman penulis ketika membaca, baik sebagai editor maupun pembaca biasa, akan lebih mudah memahami isi buku ketika membaca dari depan ketimbang meloncat-loncat, kecuali buku yang merupakan kumpulan tulisan. Istilah-istilah yang dipakai dalam buku sudah ada keterangannya di depan.
Al Qur’an sebagai sebuah kitab, menurut penulis bukanlah kumpulan tulisan, tetapi tulisan utuh sebuah kitab yang diwahyukan Allah SwT kepada Nabi Muhammad saw lewat Malaikat Jibril. Sebuah kitab yang ditujukan sebagai petunjuk kepada manusia dalam melaksanakan kehidupannya di dunia.
Karenanya, dalam Tafsir ini Al Qur’an akan dibaca dari depan tanpa melihat terlebih dahulu apa yang ada di belakang. Dalam memahami ayat jika tidak ada dalam ayat tersebut, dilihat pada ayat sebelumnya yang sudah dibaca. Tetapi jika tidak juga ada maka dilihat apakah ada Hadits yang mendukung pengertian dan pemahaman ayat tersebut.

Selain itu, ketika pemahaman sudah dilakukan juga dibahas bagaimana pelaksanaannya. Dalam hal ini, bisa didiskusikan bagaimana pengamalannya.

Kaidah Dasar Tafsir Amali



Mohon Perhatian:
1. Al Qur'an adalah petunjuk Allah untuk manusia, karenanya setiap kalimat dalam Al Qur'an tentu merupakan petunjuk yang dapat diamalkan. baik itu amal positip(berupa perintah) maupun amal negatif (berupa larangan).
2.Dalam Tafsir Amali ini, Al Qur'an sebagai sebuah kitab akan dipahami atau didekati sebagai sebuah kitab. Sehingga pemahamannya akan urut dari depan dan tidak dibolak-balik, artinya sesuatu ayat yang belum dibaca tidak akan dijadikan sebagai hujah. Akan tetapi hadis yang berkenaan dengan hal yang dibahas dapat dipakai sebagai rujukan.
3. Setiap amalan yang terkandung dalam pemahaman Al Qur'an ini hendaknya segera dikerjakan, karena pada ayat selanjutnya kemungkinan ditemukan ayat senada yang kandungan amalannya akan diperberat persyaratannya. (Rangkaian yang demikian akan coba tulis secara urut jika nanti ditemukan).
4. Pertanyaan yang tidak terkait dengan tafsir ini, tak akan dijawab di halaman ini.
5. Mudah-mudahan bisa diamalkan dan bermanfaat di dunia dan akhirat.
Yogyakarta, 2 Muharram 1436 H
Lutfi Effendi SAg, MSI