Kenapa Tafsir Amali?
Pada dasarnya, Al Qur’an itu diwahyukan
oleh Allah untuk diamalkan. Bukan hanya dibaca dan kemudian dimengerti saja,
tetapi untuk diamalkan. Membaca, mengerti dan memahami Al Qur’an hanyalah
proses saja untuk bisa mengamalkan Al Qur’an.
Orang kadang hanya berhenti membaca saja
tanpa mengerti, memahami Al Qur’an, apalagi mengamalkannya. Mereka mengangap membaca Al Qur’an itu adalah
mengamalkan Al Qur’an. Maka mereka mempunyai tradisi membaca surat Yasin tiap
malam Jum’at. Menurut mereka itulah amalan mereka.
Namun ada juga yang lanjut dengan mengerti
dan memahami ayat-ayat Al Qur’an. Mereka berdiskusi dengan asyiknya tentang
ayat-ayat Al Qur’an itu. Sering sampai berbusa-busa dalam mendebatkan suatu
ayat. Jika perlu dengan referensi
berbagai kitab Tafsir ia melakukan perdebatan itu, tetapi mereka berhenti
dengan diskusi saja dan dicukupkan dengan ilmunya, baik itu ditulis atau
diceramahkan kepada yang lain. Menulis dan menceramahkan itulah yang mereka
anggap sebagai pengamalan Al Qur’an.
Yang jarang adalah mendiskusikan bagaimana
mengamalkan Al Qur’an dari apa yang mereka mengerti dan pahami itu. Dalam
sejarah pergerakan, ini pernah dilakukan oleh KHA Dahlan. Bagaimana dengan
membaca, mengerti dan memahami surat Al Ma’un kemudian mereka mengamalkannya
dalam kehidupan secara praxis. Inilah yang penulis sebut dengan Tafsir Amali,
Tafsir Al Qur’an yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kenapa
Kitabi?
Kitabi hanyalah sebuah pendekatan atau
metode dalam memahami Al Qur’an. Al Qur’an didekati sebagai sebuah Kitab atau
Buku. Artinya, membacanya dari depan (dari surat Al Fatihah sampai ke surat An
Nas). Meski ada pula yang membaca buku sesuai dengan kebutuhannya (setelah
membaca daftar isi).
Pengalaman penulis ketika membaca, baik
sebagai editor maupun pembaca biasa, akan lebih mudah memahami isi buku ketika
membaca dari depan ketimbang meloncat-loncat, kecuali buku yang merupakan
kumpulan tulisan. Istilah-istilah yang dipakai dalam buku sudah ada
keterangannya di depan.
Al Qur’an sebagai sebuah kitab, menurut penulis
bukanlah kumpulan tulisan, tetapi tulisan utuh sebuah kitab yang diwahyukan
Allah SwT kepada Nabi Muhammad saw lewat Malaikat Jibril. Sebuah kitab yang
ditujukan sebagai petunjuk kepada manusia dalam melaksanakan kehidupannya di
dunia.
Karenanya, dalam Tafsir ini Al Qur’an akan
dibaca dari depan tanpa melihat terlebih dahulu apa yang ada di belakang. Dalam
memahami ayat jika tidak ada dalam ayat tersebut, dilihat pada ayat sebelumnya
yang sudah dibaca. Tetapi jika tidak juga ada maka dilihat apakah ada Hadits
yang mendukung pengertian dan pemahaman ayat tersebut.
Selain itu, ketika pemahaman sudah
dilakukan juga dibahas bagaimana pelaksanaannya. Dalam hal ini, bisa
didiskusikan bagaimana pengamalannya.