Jumat, 06 Maret 2015

Tafsir Amali Kitabi


Kenapa Tafsir Amali?
Pada dasarnya, Al Qur’an itu diwahyukan oleh Allah untuk diamalkan. Bukan hanya dibaca dan kemudian dimengerti saja, tetapi untuk diamalkan. Membaca, mengerti dan memahami Al Qur’an hanyalah proses saja untuk bisa mengamalkan Al Qur’an.
Orang kadang hanya berhenti membaca saja tanpa mengerti, memahami Al Qur’an, apalagi mengamalkannya.  Mereka mengangap membaca Al Qur’an itu adalah mengamalkan Al Qur’an. Maka mereka mempunyai tradisi membaca surat Yasin tiap malam Jum’at. Menurut mereka itulah amalan mereka.
Namun ada juga yang lanjut dengan mengerti dan memahami ayat-ayat Al Qur’an. Mereka berdiskusi dengan asyiknya tentang ayat-ayat Al Qur’an itu. Sering sampai berbusa-busa dalam mendebatkan suatu ayat.  Jika perlu dengan referensi berbagai kitab Tafsir ia melakukan perdebatan itu, tetapi mereka berhenti dengan diskusi saja dan dicukupkan dengan ilmunya, baik itu ditulis atau diceramahkan kepada yang lain. Menulis dan menceramahkan itulah yang mereka anggap sebagai pengamalan Al Qur’an.
Yang jarang adalah mendiskusikan bagaimana mengamalkan Al Qur’an dari apa yang mereka mengerti dan pahami itu. Dalam sejarah pergerakan, ini pernah dilakukan oleh KHA Dahlan. Bagaimana dengan membaca, mengerti dan memahami surat Al Ma’un kemudian mereka mengamalkannya dalam kehidupan secara praxis. Inilah yang penulis sebut dengan Tafsir Amali, Tafsir Al Qur’an yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
 Kenapa Kitabi?
Kitabi hanyalah sebuah pendekatan atau metode dalam memahami Al Qur’an. Al Qur’an didekati sebagai sebuah Kitab atau Buku. Artinya, membacanya dari depan (dari surat Al Fatihah sampai ke surat An Nas). Meski ada pula yang membaca buku sesuai dengan kebutuhannya (setelah membaca daftar isi).
Pengalaman penulis ketika membaca, baik sebagai editor maupun pembaca biasa, akan lebih mudah memahami isi buku ketika membaca dari depan ketimbang meloncat-loncat, kecuali buku yang merupakan kumpulan tulisan. Istilah-istilah yang dipakai dalam buku sudah ada keterangannya di depan.
Al Qur’an sebagai sebuah kitab, menurut penulis bukanlah kumpulan tulisan, tetapi tulisan utuh sebuah kitab yang diwahyukan Allah SwT kepada Nabi Muhammad saw lewat Malaikat Jibril. Sebuah kitab yang ditujukan sebagai petunjuk kepada manusia dalam melaksanakan kehidupannya di dunia.
Karenanya, dalam Tafsir ini Al Qur’an akan dibaca dari depan tanpa melihat terlebih dahulu apa yang ada di belakang. Dalam memahami ayat jika tidak ada dalam ayat tersebut, dilihat pada ayat sebelumnya yang sudah dibaca. Tetapi jika tidak juga ada maka dilihat apakah ada Hadits yang mendukung pengertian dan pemahaman ayat tersebut.

Selain itu, ketika pemahaman sudah dilakukan juga dibahas bagaimana pelaksanaannya. Dalam hal ini, bisa didiskusikan bagaimana pengamalannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar